Selasa, 18 Oktober 2011
Menangislah wahai diri, agar senyumanmu banyak di
kemudian hari. Kerana engkau belum tahu, nasibmu dihizab kanan atau hizab kiri.
Di akhir masa nanti, lembaran sejarahmu hidpmu dibuka satu persatu,
menyemarakkan rasa malu berabad-abad, berharap diri mendapat syafaat Rasulullah
yang dikasihi Allah.
Ingatlah ........
ketika tangisan syahdu yang mengalir dan membajiri air mata Nabi Adam yang menangis bertaubat,
maka suburlah dan sejahteralah bumi kerana terangkatnya taubat.
Menangislah seperti Saidina Umar yang selalu memukul
dirinya dengan berkata:
"Kalau semua masuk ke dalam syurga kecuali seorang,
aku takut akulah orang itu."
Menangislah sebagaimana Ummu Sulaim apabila ditanya :
"Kenapa engkau menangis?" "Aku tidak mempunyai anak lagi untuk
saya kirimkan ke medan Perang," jawabnya.
Menangislah sebagaimana Ghazwan yang tidak sengaja
terpandang wanita rupawan. Diharamkan matanya dari memandang ke langit seumur
hidup,lalu berkata : "Sesungguhnya engkau mencari kesusahan dengan
pandangan itu."
Ibnu Masud r.a.berkata : "Seorang yang mengerti al
Quran dikenali waktu malam ketika orang lain tidur,dan waktu siangnya ketika
orang lain tidak berpuasa, sedihnya ketika orang lain sedang gembira dan
tangisnya di waktu orang lain tertawa. Diamnya di waktu orang lain berbicara,
khusuknya di waktu orang lain berbangga, seharusnya orang yang mengerti al
Quran itu tenang, lunak dan tidak boleh menjadi seorang yang keras, kejam,
lalai, bersuara keras dan marah.
Tanyailah orang-orang soleh mengapa dia tidak gembira :
"Bagaimana hendak bergembira sedangkan mati itu di
belakang kami, kubur di hadapan kami, kiamat itu janji Allah kepada kami,
neraka itu memburu kami dan perhentian kami ialah ALLAH."
Menangislah di sini, sebelum menangis di
sana!!!.............
(dari
berbagai sumber)
Label: Renungan
Suatu sore, seorang anak menghampiri
ibunya didapur. Kemudian anak itu menyerahkan selembar kertas yang telah
ditulisnya.
Setelah sang ibu mengeringkan tangannya
dengan celemek, lalu ia membaca tulisan itu dan inilah isinya :
Untuk
memotong rumput, dua ribu rupiah
Untuk
membersihkan kamar tidur, seribu rupiah
Untuk
pergi ke took disuruh ibu, lima
ratus rupiah
Untuk
menjaga adik waktu ibu belanja, lima
ratus rupiah
Untuk
membuang sampang, seribu rupiah
Untuk
nilai raport yang bagus, tiga ribu rupiah
Untuk membersihkan dan menyapu halaman,
lima ratus rupiah
Jadi
utang ibu = delapan ribu lima
rupiah
Sang
ibu memandangi anaknya dengan penuh harap. Berbagai kenangan terlintas dalam
benak sang ibu, kemudian ia mengambil pulpen, membalikkan kertasnya, lalu ia
menulis:
Untuk
sembilah bulan ibu mengandung kamu, GRATIS
Untuk
semua malam ibu menemani kamu, GRATIS
Untuk
mengobati kamu dan mendoakan kamu, GRATIS
Untuk
semua saat susah dan air mata dalam mengurusmu, GRATIS
Untuk
semua jumalah harga cinta ibu, GRATIS
Untuk
mainan, makanan dan baju, semua GRATIS
Anakku
andainya kamu menjumlahkan semua, andai kau dapati semuanya GRATIS
Seusai
membaca apa yang ditulis ibunya, sang anak pun berlinang air mata kemudian sang
anak menatap wajah ibunya, ia berkata : “Bu, aku sayang sekali sama ibu”
lalu anak itu mengambil bolpoin dan menulis sebuah kata dengan huruf besar
“LUNAS”
Dikutip dari bulletin Al Islam
Label: Renungan
;;
Subscribe to:
Postingan (Atom)